definisi dan konsep penyuntingan film

Definisi dan Konsep Penyuntingan Film

Apa itu Penyuntingan Film? Dan apa konsep yang mempengaruhi penyuntingan film hingga saat ini?

Di artikel ini akan di bahas secara detail tentang definisi penyuntingan film serta konsep yang mempengaruhinya hingga saat ini.

Seperti di lansir oleh wikipedia Penyuntingan film adalah bagian dari prosesa pascaproduksi kreatif dari pembuatan film. Istilah penyuntingan film berasal dari proses pengerjaan film secara tradisional, tetapi sekarang lebih ke penggunaan teknologi digital.

Tiga konsep yang mempengaruhi penyuntingan film hingga saat ini adalah:

Continuity Editing

Yaitu teknik penyuntingan formal yang didasarkan pada prinsip untuk membuat penonton terjebak dalam dunia fiksi yang diciptakan.

Selama menyaksikan film, penonton harus dibuat sadar dan mempercayai bahwa yang tampak di layar adalah sesuatu yang nyata. Apakah itu film drama romantis dua karakter yang dekat dengan keseharian, atau film aksi laga dengan pahlawan sakti, atau film horor yang menampilkan monster, film-film Hollywood klasik ingin penonton mempercayai bahwa mereka sedang menonton sebuah realitas. Salah satu “resep” ampuh yang dipercaya bisa mencapai tujuan tersebut adalah menerapkan continuity editing.

Di dalam video ini akan dijelaskan lebih rinci tentang continuity editing dalam sebuah film.

Formalisme Rusia

Kajian dan studi film banyak menyebut kekuatan penyuntingan untuk menciptakan asosiasi baru dan ide-ide dalam pikiran penonton. Para pembuat film Uni Soviet bahkan menganggap penyuntingan sebagai sesuatu yang imajinatif dan dinamis. Mereka percaya penyuntingan dapat menciptakan hal baru, sesuatu yang tidak ada di gambar tetapi muncul di dalam pikiran penonton.

Sutradara dan teoris film, Les Kuleshov, membuat sebuah percobaan terkenal yang melibatkan persepsi emosi penonton. Ia mengambil gambar medium close-up aktor kawakan Rusia, Ivan Mozhukin, dengan ekspresi netral. Gambar itu kemudian secara terpisah disandingkan dengan masingmasing gambar mangkuk sup, peti mati, dan gadis kecil sedang bermain.

Orang-orang yang menonton suntingan shot-shot itu pun menyatakan kekaguman pada akting Ivan Mozhukin yang kuat namun halus. Mozhukin dianggap dapat mengekspresikan kelaparan yang luar biasa. Pada bagian lain, Mozhukin bisa menunjukkan kesedihan yang dahsyat. Di bagian yang lain lagi, Mozhukin sanggup menampilkan dengan tepat perasaan orang tua melihat anak mereka bermain. Sungguh aktor hebat.

Kenyataannya, tentu saja, tidak begitu. Gambar itu adalah shot yang sama dari Mozhukin, dan ia tidak memperlihatkan apapun selain ekspresi netral. Penonton sendirilah yang menciptakan persepsi emosi dengan membuat asosiasi di pikirannya sendiri mengenai kaitan dari satu shot ke shot lainnya.

Kuleshov tidak sekadar membuat konten emosional melalui penyuntingan. Ia juga membangun scene tersebut dalam tiga ruang yang berbeda namun berkesinambungan. Pertama, Mozhukin dan semangkuk sup. Kedua, Mozhukin dan peti mati. Ketiga, Mozhukin dan anak.

Artinya, aktor itu dapat terlihat berada di tempat yang sama dengan semangkuk sup, tempat yang sama dengan peti mati, dan tempat yang sama dengan gadis kecil. Sebuah ruang yang hanya bisa diciptakan dengan penyuntingan.

Montage

Montage memiliki tiga definisi yang berbeda tapi saling terkait.

Definisi pertama adalah yang paling mudah. Di Prancis, kata montage hanya berarti editing. Semua jenis penyuntingan. Seperti dijelaskan dalam contoh sederhana di atas, pembuat film mengambil dua lembar seluloid hasil syuting, memotongnya sesuai yang dimaui, dan secara harfiah menyatukannya kembali. Pertimbangannya bisa beradasarkan kesinambungan gambar, ekspresi, dialog, atau kombinasi dari ketiganya.

Berbeda dengan di AS. Montage merujuk lebih khusus ke urutan film yang mengandalkan editing untuk menyingkat atau memperluas aksi, ruang, atau waktu. Efeknya sering berupa serangkaian rapid-fire dari gambar yang saling terkait.

Bayangkan sutradara menceritakan kisah sebuah rock band yang terbentuk di Omaha, dan ia perlu untuk memindahkan mereka dengan cepat ke Hollywood tampil live di sebuah acara televisi. Karena tak ada kebutuhan atau durasi untuk menonton grup berkendara dari Nebraska timur ke California selatan, sutradara memulai dengan syuting anggota grup sedang mamasukkan barang ke dalam van mereka di Omaha. Ia memotong dengan cepat shot itu ke shot lain ketika mereka melewati Great Plains. Dari sini, ia memotong shot ke tempat pengisian bensin di jalan tol, kemudian ke shot sapi di lapangan, lalu ke shot van menuju pegunungan Rocky yang bersalju.

Cut lagi ke shot anggota grup di dalam mobil, cut ke shot van tersebut melaju di Las Vegas Strip malam hari. Sebuah gambar Death Valleng mengikuti. Dari gurun, sutradara memotong ke shot rambu jalan “Los Angeles 30 Miles”, dan akhirnya van tersebut berhenti di sebuah gedung kantor di Sunset Boulevard.

Dalam montage sekuens ala AS, grup musik ini telah bergerak sepanjang jalan dari Midwest ke Los Ageles. dalam waktu kurang dari satu menit. Montage ini meringkas waktu dan ruang 1.700 mil perjalanan yang akan memakan waktu beberapa hari secara real time menjadi sekitar 45 detik saja dalam film time.

Requiem for a Dream (2000)

Sekarang contoh montage gaya AS yang memperluas ruang dan waktu. Bayangkan seorang pitcher di lapangan baseball bersiap-siap melemparkan bola. Tapi bukannya menampilkan lapangan dalam satu shot tunggal yang diambil dari ketinggian tribun, sutradara merakit dengan gaya montage AS untuk meningkatkan ketegangan permainan. Dimulai dengan full shot pitcher menyesaikan lemparan, long shot kerumunan di bangku pemain, medium shot manajer tegang di pinggir lapangan, close-up pitcher. Lalu pindah ke shot pria setengah baya menonton pertandingan di televisi ruang kerjanya, long shot sekelompok penggemar mulai berdiri, medium shot pemukul (batter) yang menantang, close-up lontaran bola dari tangan pitcher; full shot batter mengayun tongkat, shot bola melintasi layar.

Tak satu pun dari shot tersebut dilakukan dalam gerakan lambat. Real time diulur menjadi reel time dengan teknik montage AS. Pembuat film telah memperluas aksi yang dalam real time hanya membutuhkan beberapa detik menjadi 60 detik.

Definisi ketiga montage adalah yang paling rumit untuk dijelaskan dan dipahami.

Para pembuat film Uni Soviet dari pasca revolusi (akhir 1910 dan awal 1920an), melakukan perdebatan sengit tentang sifat dan efek montage. Mereka gembira Revolusi Bolshevik 1917 berusaha mengubah negara dari feodal ke industri modern, dan ingin menemukan cara untuk mengekspresikan sikap politik tersebut dalam film.

Mereka yang terlibat dalam polemik ini adalah Sergei Eisenstein, Vsevolod Pudovkin, dan Dziga Vertov. Pudovkin percaya bahwa shot seperti batu bata yang harus ditempatkan dengan hati-hati, satu per satu, untuk membentuk semacam dinding sinematik, dan bahwa montage adalah semen yang merekatkan. Film yang dihasilkan, sebagaimana dinding, lebih bermakna dari sekadar susunan bata karena montage memperkaya makna masing-masing shot.

Man with a Movie Camera

The man with a movie camera (1929)

Vertov, yang pada dasarnya seorang dokumentaris, tidak tertarik membahas perpaduan naratif yang bisa menghasilkan montage. Filmnya yang paling terkenal, Man with a Movie Camera (1929), adalah kumpulan kaleidoskopik shot yang disatukan laiknya pemusik simfoni.

Bagi Eisenstein, montage merupakan semacam penyuntingan dinamis yang digunakan untuk mengeksplorasi dan mengejawantahkan dialektika, atau konflik oposisi, dari situasi tertentu. Selain itu juga untuk menciptakan sebuah sintesis yang revolusioner di dalam pikiran penonton. Contoh paling terkenal dari gaya montage Uni Soviet dalam sejarah film, pada kenyataannya, adalah adegan Odessa Steps di film Eisenstein, Battleship Potemkin (1925).

battle of pumpkins

Battleship Potemkin (1925)

Situasi yang digambarkan Eisenstein adalah menciptakan kembali adegan tahun 1905 dari pemberontakan pelaut di kapal perang Eponymous. Mereka memberontak pada pemerintah dan menerima dukungan kuat dari orang-orang Odessa, yang di film itu telah berkumpul di tangga kota untuk menyuarakan solidaritas mereka. Tentara Tsar berbaris menuruni tangga dan mulai menembakkan senjata.

Eisenstein tidak hanya menyunting urutan shot sangat cepat untuk mengintensifkan emosi konflik antara monarki dan masyarakat, tetapi komposisi dalam setiap shot juga dibuat dengan penataan cahaya sangat kontras, komposisi diagonal, dan seterusnya. Tidak ada yang statis dalam sekuens ini. Tidak dalam penyuntingan, tidak pula dalam masing-masing shot. Ini adalah montage klasik Uni Soviet.

Bagi Eisenstein, shot memang dimaksudkan untuk berbenturan. Gaya montage-nya kebalikan dari yang halus, continuity editing ala AS. Tujuannya agar penonton berpikir dan melihat sesuatu yang baru dengan cara yang radikal. Baginya, tindakan kreatif tidak hanya masalah syuting dan penyuntingan. Dengan montage, kita menonton potongan shot tersebut dan menempatkan potongan itu di dalam kepala kita dengan cara kita sendiri.

Apa yang menghubungkan semua definisi tersebut di atas adalah bahwa montage tidak sekadar menyatukan potongan shot. Apa yang membuat tiga bentuk montage layak dipelajari adalah bahwa montage merupakan sebuah kerja kreatif yang fundamental. Sebagaimana yang dikatakan oleh Andre Bazin, “Penciptaan arti atau makna tidak untuk imaji itu sendiri, tetapi berasal secara eksklusif dari juktaposisinya.”

Penyuntingan mengumpulkan informasi dan menciptakan asosiasi yang menggugah makna untuk setiap ekspresi film.

Sumber:

Film Studies An Introduction by Ed Sikov

Pusbangfilm Kemdikbud